banner Atas 729 x 90

Kutemukan Harmony Di BEC

By Cita Dani Apriyanti July 24, 2019 78

Sebenarnya kalau ditanya soal BEC, rasanya bingung apa yang ingin diutarakan. Hari itu, mendung tanpa kepastian hujan atau panas, tapi karena yang kutahu tafsiran dari mendung adalah hujan dan aku meyakininya meskipun terkaanku pada akhirnya menemui titik akhir yang tak sama.“BEC” itulah yang kuingat dari sebuah website. Nama BEC memang sudah kukenal sebelum kulangkahkan kaki menuju sebuah tempat yang kukatakan pengasingan bagiku, yaitu Pare.

Sampai pada akhirnya aku benar-benar tidak hanya membaca tulisan BEC tetapi menjadi bagian dari kisah yang dimiliki oleh BEC dan menjadi kisahku. Bagiku yang selalu hidup semaunya mungkin BEC bukanlah tempat yang tepat, jujur saja nyinyir hati ini membaca sebuah tulisan di hari pertama yang terpampang besar di Garden Hall. “Jika menjadi siswa BEC artinya harus siap dengan peraturan BEC.” Berat rasanya jiwa ini mengiyakan untuk patuh pada peraturan. Pada akhirnya kuputuskan untuk meredakan egoku. Mendisiplinkan diri adalah hal pertama yang harus kulakukan bahkan tak suka kulakukan selama duduk di bangku kuliah, mengingat beberapa peraturan yang seenaknya kulanggar.

Aku memang bukan tergolong mahasiswa nakal, hanya saja aku tak suka diatur.  Tapi pemikiran ini seketika berubah ketika aku memasuki minggu kesekian di BEC. Hari itu seperti biasa, jam yang biasa, siswa yang masih biasa, dan guru yang luar biasa. Materi mengenai modal. Saat itu salah satu pertanyaan yang kulontarkan adalah apa perbedaan mengenai should dan must. Dari pertanyaan itu aku mengerti bahwa must itu adalah sebuah keharusan. Sebagai contoh guruku yang luar biasa sabar (Mr. Adin) memberiku sebuah perumpamaan peraturan, dan beliau kembali melemparkan pertanyaan. Kenapa peraturan itu ada? Bukankah untuk ditaati? Dan bukankah peraturan itu ada untuk kebaikan penaatnya. Itulah gunanya peraturan, dan begitu pun dengan must.

Sedikit demi sedikit aku menyadari beberapa hal yang salah sebelumnya pada diriku, mengenai cara pandangku, cara hidupku, dan pola belajar. Banyak hal yang kupelajari semenjak kubulatkan keputusan membentuk ruang rindu melalui jarak ratusan kilometer dari pelukan bundaku. Zona nyaman nyata yang kumiliki. Sesekali aku merindukan sang bunda, tapi bunda bilang, “bahwa sejauh apa pun aku melangkah, sejauh apa pun jarak yang kubuat, doa dari ibumu tak akan terhenti karena jarak dan akan kautemui cerita yang baru, orang yang baru dengan kasih dan sayang yang akan mengisi hari-harimu di sana.” Begitulah adanya. Dan kutemukan keluarga baru dengan asal dan cerita yang berbeda. Berasal dari tempat yang berbeda, pemikiran yang berbeda, latar belakang yang berbeda, usia yang berbeda, adat budaya dan tradisi yang berbeda, melebur menjadi sebuah harmony class yang terbentuk dalam sebuah kelas H CTC 138. Ya itulah kami Harmony Class…

Sesekali rinduku pada dia meronta, menuntut sebuah pertemuan nyata tanpa batas ruang hampa. Tak pernah sejauh dan selama ini sebelumnya dari bundaku. Setiap kali rindu itu menggelitik, mereka kubuat ruang bagi intensitas pertemuan untuk mengisi setiap waktu dalam materi. Bukan tanpa alasan intensitas yang kami buat, tapi kebersamaan mengajarkan kami untuk saling berbagi pemahaman ilmu pada sesama.

“Apa yang terjadi hari ini, mungkin adalah jawaban dari doa-doa kalian sebelumnya.” Itulah yang dikatakan Mr. Adin, guru kami. Itulah mungkin kalian termasuk di dalamnya. Hadiah dari Tuhan di tempat yang baru kukenal saat ini. Hari demi hari terus berlangsung, dan mengingat kebersamaan kami yang terbentuk dalam kemengertian dan ketidakmengertian.

Cukup lama jika kita hitung semua itu sejak dini hari hingga petang hari, lantai satu hingga lantai tiga dalam tiga kali waktu sehari. Tapi semua itu menunjukkan bahwa kita punya tujuan yang sama di BEC ini. Bukankah proses yang akan mengajarkan kita untuk menjadi siapa kita di kemudian hari? Mungkin ini yang sedang kita alami saat ini maka nikmatilah prosesnya saat ini dan akan menjadi bagian cerita kita di kemudian hari.

BEC tak hanya mengajarkanku tentang menghargai pentingnya sebuah aturan, dan kekeluargaan. Mengatur waktu. Ini hal yang sulit kulakukan disiplin soal waktu. Kami diajarkan untuk mengahargai waktu dalam setiap pertemuan. Kami harus memecah dinginnya udara pagi yang kulalui dan teman-temanku demi mengikuti oral examination. Bagaimana tidak?  Ujian yang dimulai sejak pukul 05.30 pagi dan kami harus berada di ruangan sebelum pukul 05.30.  Tak jarang ruangan ujian pun berada di lantai dua atau tiga. Jika terlambat kami tidak hanya menghilangkan sebuah kesempatan, tapi kami memusnahkan sebuah kesempatan.

Sebuah kenangan yang suatu saat kuceritakan pada bundaku ketika pulang, adalah bagaimana aku dan teman-temanku membuat kompetesi balap sepeda setiap pagi. Terutama hari Jumat ketika oral exam. Selain jalanan yang memang masih sepi dan waktu yang harus kami kejar. Sensasi kebut bersepeda yang seolah menjadi arena balapan kami tak hanya terjadi di pagi hari. Hampir setiap waktu kami pulang dan pergi. Sesekali bahkan aku harus mengerem sepeda dengan cepat demi menjaga keseimbangan tubuh dan menjaga keselamatanku.

Satu lagi guru yang tak terlupakan di kelas kami, Mr. Khoirul juga menjadi media bagi kami untuk menghargai waktu. Keseharian kami yang dimulai sejak pukul 07.00 membuat kami harus sampai sebelum beliau mengabsen. Jika terlambat maka harus siap menjadi hiasan di depan kelas selama waktu keterlambatan. Mr. Khorul tak hanya menjadi bagian dari waktu kami di kelas, bahkan kedekatan ini pun terbentuk ketika berada di luar jam mengajar.

Ada segudang cerita yang dimilikinya. Yang aku menyebutnya sebagai sang pelegenda cerita. Sejak awal aku berada di Pare hampir semua orang yang kutemui mengenalnya dengan baik. Mr. Kalen Osen sang pemilik dan pendiri BEC. Setiap hadirnya di tengah kami tak pernah beliau menyembunyikan senyumnya. Entah apa yang dirasakan oleh beliau hingga setiap cerita tentang dirinya mampu membuatku begitu ingin mengikuti jejaknya, memulai sesuatu yang baru.

Setiap ceritanya membuatku mengerti bahwa perjuangan tak semudah merangkai mimpi, bagaimana BEC dulunya tak mendunia seperti saat ini, bagaimana beliau yang merangkai mimpinya dari sebuah tekad keinginan menuntut ilmu tanpa batas usia. Aku menyukai setiap cerita tentangnya yang ia sajikan. Suatu ketika Mr. Kalen menceritakan bagaimana ia memulai mempelajari bahasa asing dengan membentuk sebuah kelompok kecil yang katanya tak banyak diminati pada saat itu, namun menjadi sebuah cikal bakal keberhasilannya saat ini. Semua keberhasilan membutuhkan kesabaran, perjuangan dan keberanian itulah yang kupelajari darinya.

BEC yang kuketahui saat ini, tak hanya merupakan tempatku menimba ilmu, tak hanya sekedar kursus tapi juga media pendidikan karakter dan menjadi pribadi yang lebih baik. Bagaimana kami ditata menjadi manusia yang memanusiakan manusia dengan kedisiplinan, waktu, dan kekeluargaan. Guru yang kutemui di BEC tak hanya sekadar mengajarkan tentang gramatika atau tata bahasa tapi juga tata krama, tata sosial dan tata susila serta tata hidup. Merekalah motivator ketika lelah mulai mengusik tujuanku ke tempat ini. Harmony Class tak hanya sekedar teman kelas tapi keluarga baru yang mengajarkan perbedaan adalah warna yang membentuk nada-nada indah yang akan saling mengisi dalam membentuk sebuah melodi. Mr. Kalend Osen tak hanya sekadar guru. Beliaulah sang pemilik cerita, tak ada mimpi yang menjadi nyata karena sebuah sihir, tapi mimpi akan terwujud karena perjuangan, proses, kemauan dan doa.

Izinkan kupersembahkan sebuah harmony kata yang kurangkai menjadi kalimat yang mengakhiri kata-kataku pada tulisan ini. Untukmu! Harmonyku!

Harapan itu tak pernah redup

Angan terus merangkainya untuk menjadikannya nyata

Rintik hujan yang sesekali menyelimuti kita

Menjadi peredam bagaimana panas merindukan basah

Olehnya… berlian cair dari langit yang menjadikannya sejuk

Nirwana telah melepaskan bias-bias pelangi pada angkasa, dan

Yang Kuasa menyatukan kita dalam ikatan Harmony BEC CTC 138

.........................................................................

Inspirasi Hati

Oleh: Cita Dani Apriyanti

Kampus BEC

Alamat:

Jl. Anyelir No.8

Desa Pelem, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri 

Propinsi Jawa Timur | 64212

Informasi:

0354. 392987 | +62 812 3053 8823

© 2019 Basic English Course All Rights Reserved. By Kang Oviagus