banner Atas 729 x 90

Without Him, You Are Nothing

By Ahmad Eko Hadi July 24, 2019 62

Pernahkah berpikir bahwa siapa yang membuatmu bisa seperti sekarang? Engkau tahu manisnya kehidupan dan engkau tahu bagaimana menghindari pahitnya kehidupan. Bagaimana cara menjalani hidup yang kejam ini dan bagaimana cara melewatinya. Kau mungkin sekarang lupa dengannya, kau mungkin sekarang tak lagi mengingatnya. Namun dia akan selalu ingat dan menaruh harapan yang besar dipundakmu.

Dia adalah yang kita sebut sebagai ‘teacher’ atau guru. Yang kita kenal guru adalah orang yang mengajar kita waktu di bangku persekolahan atau perkuliahan. Mulai dari kita belum mengenal apa-apa hingga kita bisa membuat apa-apa. Mulai Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, S1, S2 maupun S3. Pertanyaanya adalah: Berapa banyak guru yang kita kenal? Berapa banyak ilmu yang kita dapat darinya? Berapa banyak pengalaman yang kita dapat? Dan masih banyak hal-hal yang kita dapat darinya yang tak bisa diurai hanya dengan tinta. Namun pertanyaanya adalah satu, “apakah yang telah kita berikan?” dan paling mengenaskan jawabanya adalah “nothing” or “never.” Tidak ada dan tidak pernah.

Itu tadi adalah guru dalam arti pendidik dalam lingkup formal. Lebih luas lagi guru adalah orang yang mengajarkan sesuatu kepada kita. Dalam pengertian tersebut, berarti setiap orang yang kita temui bisa menjadi guru kita, orang yang memberikan cerita, curahan hati, peringatan, kritikan bahkan kecaman adalah guru kita. Karena dari merekalah kita juga bisa mengambil pelajaran.

Namun dalam konteks bahasan ini aku ingin bercerita tentang guru-guru yang langsung bersentuhan dengan kita. Dan aku mendapat pelajaran yang berarti di sini di tempat belajarku sekarang, yakni di dalam belajar bahasa Inggris. Ketika kita belajar dalam kelas, pastinya terdapat guru dan siswa. Selain itu juga terjadi proses belajar mengajar. Namun, di tempatku belajar yang kudapat bukan hanya cara belajar dan memahami materi. Tapi, juga bagaimana belajar mengajar dan menjadi pengajar yang baik. Kulewati hari-hariku bersama guru-guru yang kupikir bukan guru biasa. Beliau-beliau melebihi ekspektasi dan jangkauan nalarku. Andaikan ada kata lain yang melebihi kata luar biasa, pasti akan aku gunakan untuk menyebutkan kehebatan seorang guru di sini.

Untuk lebih jelasnya, sekarang aku sedang melaksanakan studi di sebuah kursusan bahasa Inggris di Pare Kediri. Di sana aku melihat bagaimana seorang guru benar-benar bisa menempatkan dirinya sebagai guru. Di luar dugaan, banyak hal di luar materi pelajaran yang aku dapat dari beliau.

Maaf atas kesalahan dan kebodohan kami, yang sering menguji emosi dan kesabaranmu, waktumu yang terampas karena kami, masa-masa yang tak akan kembali lagi penuh dedikasi, kontibusi dan konsistensi. Maafkan kami untuk sekarang dan seterusnya. Terakhir kata “Tanpamu Aku Tak Berarti, Without You, I Am Nothing.”

Pertama, ‘genius’ (kecerdasan). Bagaimana beliau bisa menempatkan diri di tengah heterogenitas siswanya dengan berbagai latar belakang yang berbeda, dengan umur yang berbeda, kapasitas keilmuan yang berbeda dan yang paling sulit untuk diketahui adalah tingkat emosionalitas yang pastinya berbeda-beda, bahkan saling bertolak belakang dan berbolak-balik satu dengan lainnya. Kenapa aku katakan ini luar biasa? Jawabanya adalah karena ini bukanlah sekolah formal layaknya SD, SMP, SMA. Mereka bukan orang dengan umuran yang sama, mereka bukan murid dengan grade atau kelas formal yang sama, mereka masuk bukan karena ujian, tes atau passing test dan sejenisnya. Mereka datang dengan niat yang berbeda-beda pula. Tapi beliau mampu mengatasi perbedaan itu dengan sentuhan magic sehingga membuat suasana menjadi flowing (mengalir) dengan satu aliran dan akhirrnya mampu bermuara ke dalam satu tujuan yaitu belajar sungguh-sunguh di dalam Bahasa Inggris. Hal itu bukanlah perkara yang mudah, harus ada penguasaan psikologi dan emosional yang mendalam.

Kedua, ‘patience’ (kesabaran) adalah hal paling penting yang dapat kupelajari dari beliau. Tanpa ada raut muka marah di wajahnya, walaupun kadang aku mengerti gejolak hati di dalam dirinya, karena gelitikan hal-hal yang mengusik hatinya yang pastinya datang dari siswanya itu sendiri. Kesabaran untuk menarik ulur para siswanya hingga benar-benar bisa mengikuti alur cara belajar yang beliau sampaikan. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa “kesabaran itu ada batasnya.” Beliau benar-benar telah meletakkan tapal batas kesabaranya sejauh-jauhnya. Hingga dirinya sendiri pun tak mampu melihat batas dari kesabaranya.

Ketiga, ‘sincerely’ (keikhlasan) dengan dedikasi dan kontribusi yang tanpa batas. Beliau mentransfer ilmu dengan sepenuhnya, tidak setengah-tengah. Mengusahakan agar siswa didiknya dapat menerima apa yang beliau sampaikan dengan segala usaha dan daya, walaupun harus mengalahkan kepentingan pribadinya. Beliau melakukan dengan tanpa pamrih sedikit pun. Kenapa begitu? Karena beliau tak pernah memikirkan apa yang akan mereka dapat, tapi selalu melakukan apa yang bisa aku beri. Seperti dikutip dalam kata-kata kenegaraan John. F. Kennedy “Ask not what your country can do for you. Ask what you can do for your country.”

Namun, sering kita lupa betapa berat beban beliau dalam mendampingi kita. Sudah berapa banyak jasa yang beliau berikan kepada kita. Dan kita pasti telah lupa atau bahkan hilang ingatan tentang beribu-ribu bahkan berjuta-juta kesalahan kita kepada beliau. Beliau tidak meminta balasan dari kita berupa harta benda, uang, pujian atau simbol-simbol material yang lain. Apa yang beliau harapkan? Tentu beliau hanya berharap siswanya faham dengan apa yang beliau sampaikan. Meskipun beliau tidak membutuhkan apa pun dari kita. Akan tetapi seharusnya kita sadar, bahwa yang harus kita berikan bukanlah sesuatu yang wah, melainkan “respect (penghargaan), honour (penghormatan), recognition (pengakuan) dan sensitivity (kepekaan)” Itu semua dari kita, bukan dalam bentuk hanya simbol-simbol, tapi suatu usaha yang riil (nyata). Berupa apa? Itulah pertanyaanya.

Terakhir dari penutup kisah ini adalah di manakah aku berada sekarang dan siapakah aku? Aku belajar di surganya penuntut ilmu bahasa Inggris yakni Kampung Inggris Pare Kabupaten Kediri Provinsi Jawa Timur dan di kursusan pertama yang berdiri di sana yakni Basic English Course, atau yang lebih dikenal dengan BEC, yang mana aku adalah termasuk siswa di dalamnya. Dan untuk menjawab pertanyaan yang belum terjawab, apa yang harus kita lakukan? Jawabannya sederhana, hanya “You needn’t be the best, but you must do the best.” (Kau tak perlu menjadi yang terbaik, tapi kau harus melakukan yang terbaik).

Terima kasih kami kepada semua guru kami. Maaf karena kami tak bisa membalasnya, atau bahkan takkan pernah bisa membalasnya. Terima kasih untuk semuanya, terima kasih untuk yang tak dapat dihitung dan yang tak dapat dibacakan. Karena, akan menghabiskan umur kami untuk membacakanya dan itu pun tak dapat mewakili secuil apa yang kau berikan.

Maaf atas kesalahan dan kebodohan kami, yang sering menguji emosi dan kesabaranmu, waktumu yang terampas karena kami, masa-masa yang tak akan kembali lagi penuh dedikasi, kontibusi dan konsistensi. Maafkan kami untuk sekarang dan seterusnya. Terakhir kata “Tanpamu Aku Tak Berarti, Without You, I Am Nothing.”

............................................................................

Inspirasi Hati

Oleh: Ahmad Eko Hadi

Kampus BEC

Alamat:

Jl. Anyelir No.8

Desa Pelem, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri 

Propinsi Jawa Timur | 64212

Informasi:

0354. 392987 | +62 812 3053 8823

© 2019 Basic English Course All Rights Reserved. By Kang Oviagus