banner Atas 729 x 90

Ini Dia 10 Penerima Penghargaan ‘Mnctv Pahlawan untuk Indonesia’

By tajwid July 24, 2019 287

Meri Tabuni, 80 Tahun (Mantri Kesehatan, Tagime, Jayawijaya, Papua)
Meri Tabuni atau yang akrab disapa dengan panggilan Mama Meri adalah kader pertama warga asli keturunan suku Dani yang dididik menjadi seorang petugas kesehatan. Setengah abad lebih ia mengabdikan dirinya untuk menjadi tenaga kesehatan di tempat kelahirannya itu.

Ia sama seperti warga asli pada umumnya yang buta huruf, namun ia berhasil menjadi seorang mantri dan juga mendidik beberapa warga untuk mengikuti jejaknya. Kini, ia dan beberapa kadernya menetap di desa yang jauh dari perkotaan, yakni di Distrik Tagime, sebuah desa di lembah pegunungan Jayawijaya yang berada 1600 meter di atas permukaan laut. Tempat yang terpencil membuat para petugas kesehatan profesional enggan menetap lama. Ia tak dibayar, kadang ubi saja sebagai tanda terima kasih pasien yang disembuhkannya. Bagi nenek yang pada masa mudanya dilatih tenaga kesehatan dari Amerika Serikat ini, masyarakat Dani datang ke puskesmas saja sudah kebahagiaan tersendiri.

Mardiana Maya Satrini, 46 Tahun (Aktivis Perempuan, Singkawang, Kalimantan Barat)

Mardiana Maya Satriani, sudah lebih dari 30 tahun mengabdikan dirinya sebagai pejuang kemanusiaan. Ia memberikan pendampingan dan kunjungan ke beberapa daerah di tempat kelahirannya, Singkawang, Kalimantan Barat. Kegiatan Maya mulai dari memberikan penyuluhan tentang penyakit HIV-AIDS, sampai kepada pemberdayaan masyarakat, yang notabene pernah terjatuh ke dalam jurang kesesatan, menjadi PSK. Perempuan yang biasa dipanggil Kak Lung ini berupaya memahami kondisi masyarakat yang terpaksa melakukan hal yang tidak dikehendakinya karena terhimpit ekonomi.

Kaleb Tandamusu, 56 Tahun (Pencegah Wabah Schistosomiosis, Poso, Sulawesi Tengah)

Relawan kesehatan sudah banyak dilakoni. Tapi bagaimana dengan relawan atau petugas kesehatan yang tugasnya mengumpulkan sisa kotoran manusia untuk diteliti. Kaleb Tandamusu (56 thn) sudah 30 tahun mengabdikan dirinya sebagai penyuluh kesehatan di daerah berpenyakit endemik schistosomiasis, yang terdapat di dataran tinggi Lindu, Napu dan Bada, Provinsi Sulawesi Tengah. Ia menjalani profesi sebagai petugas kesehatan pencegah wabah sistosomiasis di kawasan lembah megalit, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Pekerjaannya adalah memunguti tinja warga, untuk mencegah wabah sistosomiasis, penyakit mematikan yang hanya ada di kawasan ini di Indonesia. Kaleb sampai diejek “manusia tai”, padahal honornya tak seberapa. Tapi ia tetap menjalani pekerjaannya yang diajarkan kepadanya sejak remaja oleh satu-satunya ahli sistosomiasis di negeri ini, Muhammad Sudomo.

Syamsudin, 43 Tahun (Penarik Becak Peduli Lingkungan, Banjarmasin, Kalimantan Selatan)

Syamsudin, seorang tukang becak, aktif melakukan penanaman di area Banjarmasin. Biasanya dia melakukan kegiatan penanaman ini dibantu teman, tetangga, saudara dan bahkan lebih sering melakukannya sendirian. Di tahun 2001, ia mulai melakukan pembibitan dengan meminjam lahan milik orang lain. Di tahun 2003, Syamsudin mulai melakukan penanaman. Penanaman yang dilakukan biasanya dilakukan di kota dengan meminta izin ke Dinas Kebersihan dan Taman. Sedangkan untuk penanaman di provinsi, ia meminta izinnya ke Dinas Kehutanan. Mulai dari pembibitan sampai dengan perizinan dilakukan sendiri oleh bapak yang berprofesi sebagai tukang becak ini. Selama menjalani kegiatan ini, Syamsudin belum pernah mendapatkan bantuan dana dari pemerintah atau masyarakat. Semuanya dilakukan secara sukarela. Menurut Syamsudin, ia sangat cinta penghijauan, jadi melakukannya dengan ikhlas.

Indrawati Sambow, 40 Tahun (Guru Bantu Sekolah Daun, Gunung Gawalise, Sigi, Sulawesi Tengah)

Sudah lima tahun Indrawati berjuang membebaskan warga sekitar Gunung Gawalise, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, dari keterbelakangan. Sebagai guru bantu ia sudah biasa berjalan kaki menempuh jarak hingga 10 km dengan kemiringan medan 45 hingga 80 derajat untuk menemui anak didiknya. Jarak tersebut harus ditempuh selama enam jam. Segala keletihan Indrawati terbayar setelah melihat semangat anak-anak suku Kaili Inde yang belajar di Sekolah Daun. Ibu beranak dua ini rela meninggalkan keluarganya berhari-hari yang tinggal di dekat kota Palu. Honornya yang tak seberapa dan kerap terlambat diterima, ia sisihkan untuk membeli beras agar murid-muridnya makan nasi sekali seminggu. Indrawati juga memberantas buta huruf orang-orang dewasa suku Kaili.

Noverius H. Nggili, 37 Tahun (Pemberdaya Masyarakat, Kupang, Nusa Tenggara Timur)

Potensi ternak di Kabupaten Kupang kurang banyak tergali oleh warga setempat. Noverius Henutesa Nggili, kelahiran Maumere, tergerak hatinya untuk mengembangkan potensi ini. Bersama geng motornya, ia berkunjung ke desa-desa memberikan berbagai penyuluhan dan pelatihan pemanfaatan limbah kotoran hewan, memperkenalkan teknologi tepat guna, untuk mengolah kotoran ternak menjadi biogas. Ia juga kerap memberikan penyuluhan hingga ke daerah pesisir pantai yang mengalami kesulitan air bersih. Pria 35 tahun ini bersama geng motornya melatih pembuatan alat desalisator yang mengubah air laut menjadi air tawar, sebagai solusi masalah kekeringan dan kelangkaan air bersih di desa-desa terpencil. Latar berlakang pendidikannya adalah insinyur peternakan dan kini ia mendampingi 22 desa dan kelurahan di Kabupaten Kupang. Mereka pun melatih pembuatan pupuk organik dengan bahan kotoran ternak dan tumbuhan gulma, yang lebih murah daripada pupuk urea.

Matheus Antonius Krivo, 40 Tahun (Pemberdaya Petani, Soe, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur)

Matheus, kelahiran Flores, tergerak hatinya mengatasi masalah rawan pangan dengan memberdayakan potensi pertanian para petani di desa-desa di kawasan Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Pemahaman dan kebiasaan pola bertani yang salah menjadi penyebab timbul rawan pangan. Dengan konsep menjadikan lahan sebagai lumbung (ume k’bubu), sebagai sarana penting ketahanan pangan, kebutuhan pangan masyarakat yang senantiasa terpenuhi sepanjang tahun. Ia berusaha memberikan pengarahan kepada para petani sejak tahun 2006. Ia juga memperkenalkan pola bertani atau berkebun menetap, yang menggantikan kebiasaan membakar lahan usai panen. Berkat upayanya selama enam tahun, produk pertanian meningkat di sepuluh desa binaannya. Ancaman kelaparan pada musim kemarau yang panjang di NTT pun dapat diatasi.

Ni Nyoman Suparni, 50 Tahun (Aktivis Anak dan Perempuan, Karangasem, Bali)

Ni Nyoman Suparni sudah biasa keluar masuk LP Anak Karangasem, Bali. Di bawah payung “Kelompok Peduli Perempuan dan Anak Bali” serta Women Crisis Centre, ia bergerak memberdayakan anak yg berhadapan dengan hukum, anak korban kekerasan seksual dan korban KDRT. Suparni juga menampung dan memfasilitasi kebutuhan anak-anak yang telah keluar dari lapas di rumahnya dan mencarikan pekerjaan yang halal untuk bekal hidup mereka. Di tangannya, stigma negatif disulap menjadi segudang asa yang menjadi bekal bagi para mantan napi dan korban untuk menjalani kehidupan baru layaknya warga biasa. Ia keluar masuk lembaga pemasyarakatan untuk mendampingi anak-anak penghuni lapas yang berhadapan dengan hukum. Sarjana hukum Universitas Saraswati Denpasar ini sempat mengalami peristiwa buruk saat suaminya yang tentara terpaksa berhenti dari kedinasan, diduga akibat adanya tekanan saat ia mengadvokasi kasus korban kekerasan terhadap anak. Kesehariannya banyak diwarnai dengan sosialiasi kekerasan dalam rumah tangga ke sekolah-sekolah dan desa-desa. Pendiri Kelompok Peduli Perempuan dan Anak (KPPA) ini pun membentuk koperasi simpan pinjam yang beranggotakan ibu-ibu rumah tangga, di samping membantu anak-anak yang kekurangan gizi.

Putri Herlina, 23 Tahun (Pembantu Perawat Panti Asuhan, Sleman, DI Yogyakarta)

Mengabdikan dirinya untuk anak-anak yang kurang beruntung, sama seperti dirinya. Terlahir tanpa tangan dan dibuang orang tuanya, Putri pernah diasuh di Yayasan Sayap Ibu, Sleman Yogyakarta. Kini, Putri bertugas di bagian administrasi di Yayasan Sayap Ibu. Ia juga turut membantu merawat adik-adik di panti, mulai dari bayi hingga anak-anak cacat ganda. Ia sebenarnya punya pilihan hidup untuk berkarya di luar, namun Putri memilih menghabiskan waktunya di panti untuk membantu merawat anak-anak yang kurang beruntung. Putri mengalami cacat lengan dan dibuang oleh orangtuanya. Meski cacat, ia lincah menggerakkan kakinya untuk merawat anak-anak penghuni panti asuhan, termasuk yang cacat seperti dirinya. Bahkan ia membantu administrasi Yayasan Sayap Ibu dengan kelincahan jari-jari kakinya, selain pandai pula memasak untuk makan penghuni panti asuhan.

Muhammad Kalend Osen, 50 Tahun (Perintis Kampung Inggris, Pelem, Kediri, Jawa Timur)

Desa Pelem, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, disebut juga Desa Inggris. Di desa ini hampir semua warganya biasa menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar sehari-hari. Di desa ini ada 114 tempat kursus Bahasa Inggris. Hal ini tak lepas dari peran Muhammad Kalend Osen asal Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Desa yang dulunya sepi sekarang berubah ramai dengan ribuan siswa dari seluruh Indonesia untuk belajar Bahasa Inggris di kampung tersebut. Kampung ini dianggap sebagai tempat yang tepat untuk belajar bahasa Inggris secara intensif. Kalend pertama kali mengajarkan bahasa Inggris pada 1976, berawal dari keberhasilannya meluluskan dua mahasiswa yang belajar kepadanya. Murid-muridnya dianjurkan membuka kursus bahasa Inggris pula. Muridnya dari berbagai penjuru Nusantara, yang menyebabkan usaha rumah kontrakan atau kos, laundry, penyewaan sepeda, dan lain-lain menjamur.

 

Sumber: http://www.mnctv.com/index.php?option=com_content&task=view&id=5400&Itemid=187

Kampus BEC

Alamat:

Jl. Anyelir No.8

Desa Pelem, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri 

Propinsi Jawa Timur | 64212

Informasi:

0354. 392987 | +62 812 3053 8823

© 2019 Basic English Course All Rights Reserved. By Kang Oviagus