banner Atas 729 x 90

Insyallah Terkabul: Jangan Pernah Berhenti Bermimpi

By Oviagus Budiono May 21, 2019 69
Ima Safitri (tengah) bersama rekan-rekanya di Ponpes Modern Nurul Ikhlas, Padang Panjang, Sumatera Barat Ima Safitri (tengah) bersama rekan-rekanya di Ponpes Modern Nurul Ikhlas, Padang Panjang, Sumatera Barat

Namaku Ima Safitri atau karib disapa Ime. Aku asli Lumajang, Jawa Timur. Masa sekolah tingkat Aliyahku kuhabiskan di sebuah desa kecil di Jember sembari mondok di Ponpes Mabda'ul Ma'arif, Jombang, Jember. Menginjak kelulusan, berbekal ilmu yang kudapat selama di ponpes serta predikat lulus dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN 3), aku menyandarkan cita-cita yang tinggi tentang perjalanan asaku.

Waktu itu aku berangan sekali masuk ke perguruan tinggi, namun apa daya keadaan (ekonomi) sangat tidak mendukungku. Dengan kendala itu, akhirnya mau tidak mau aku harus memupus harapanku untuk bisa merasakan "madu" dibangku kuliah. Sedih langsung menghampiriku. Bayang-bayang ketakutan akan nasib gadis desa yang segera dipinang orang, seketika datang bagai tabir yang sulit disingkap. Ya, maklum saja, di desa kami begitulah kira-kira jalan cerita seorang gadis desa jika tanpa aktifitas yang jelas alias diam saja di rumah.

Seiring waktu berjalan, otakku seakan tak mau diam mengotak-atik cara agar aku bisa mencari solusi atas keinginannku. Beratus 'andai, jika saja, seumpama seakan datang tumpah tindih dalam benak yang semakin kalut. Alhamdulillah, dalam fase itu, aku bertemu kakak kelasku di MA dulu. Menurutnya, sebagai pengganti aku tidak bisa masuk perguruan tinggi, ia menyarankan agar aku masuk kursus bahasa Inggris. Tempat yang disarankan yaitu Pare, sebuah kota kecamatan yang masuk wilayah Kabupaten Kediri, yang terkenal dengan kampung bahasanya.

"Merasa tertarik, akupun langsung mengutarakan kepada orang tua dan Alhamdulillah beliau memberikan 'lampu hijau'. Ditemani seorang teman, aku pun langsung survei ke Pare. "Wooo lega rasanya. Akhirnya mimpi untuk bisa tetap menimba ilmu akan dapat terjawab,"

Diluar dugaan, rencanaku belajar di Pare agak berantakan. Apa daya nasib orang dengan ekonomi sederhana seperti kami ini. Waktu itu hampir mendekati bulan ramadhan. Meskipun sudah direncanakan dengan matang, pada hari-H yang ditentukan, rencana pergi ke Pare harus tertunda lantaran kendala biaya. Untuk mengisi kekosongan waktu, aku kemudian bekerja di sebuah toko baju di kotaku.

Pasca lebaran, aku kembali mengukir rencanaku untuk belajar di Pare. Alhamdulillah, waktu ke Pare aku tidak sendiri. Aku berangkat bersama teman sekolahku dulu, Robiah Al Adawiyah, yang juga hendak kursus di Pare. Pagi itu yang kuingat hatiku begitu sumringah. Sesuai arahan teman, setibanya di Pare, setelah mendapatkan kos-kosan aku langsung mendaftar di Cabang BEC, yakni Happy English Course 1 (HEC1).

TAK SEMUDAH MEMBALIK TELAPAK TANGAN

Aku pun resmi menyandang predikat siswa HEC1. Tiap hari, iklim belajar mengajar khas HEC1 kujalani dan kulalui dengan penuh semangat. Meskipun begitu, semangat kuatku kenyataannya harus berjibaku dengan realitaku. Entah kenapa, aku sulit sekali beradaptasi. Hampir tiap ujian lisan ataupun sejenis, nilaiku selalu dibawah standard. Aku mulai goyah dan tak jarang menyalahkan diriku sendiri. Sedikit rona mulai menghinggap, serta tak jarang pula 'penyakit putus asa' terkadang menari begitu menggoda.

Saat menjelang kenaikan level (lepas masa 3 bulan), teman-temanku sibuk dengan persiapan kenaikan kelas. Sementara aku, masih sibuk menata kesiapan hatiku. Disatu sisi aku ingin segera beranjak naik level, namun di satu sisi yang lain hatiku mengatakan aku belum siap dan bahkan belum mampu. Akhirnya, bersama rekan seperjuangan (kursus), aku memutuskan mengulang, pindah kursus dan mendaftar di BEC.

Aku buka lagi lembaran dan semangat baru di BEC. Untuk menata psikisku, aku sengaja berpindah kos-kosan dari rekan-rekanku di HEC1 dulu. Aku bertekad untuk tidak mau main-main lagi dengan waktu. Kalau dulu kelas speaking sangat kuhindari, namun hal itu akhirnya sudah bisa kuatasi. Bahkan dalam perkembangannya aku sudah mulai adaptatif dan bisa menikmati semua program yang ada. Tiap detik waktuku kini mulai terisi dengan rangkai kata yang ceria. Dan keceriaan itu pula yang akhirnya membawaku ke ruang yang sangat aku idamkan. Ya, aku berhasil lulus TC. Itu artinya aku sudah bisa untuk mengikuti tes di program MS.

AWAL MERENDA MIMPI

Hatiku seketika berdetak kencang tatkala satu persatu nama disebut dalam hasil peneriman ujian seleksi MS. Dari hampir ratusan peserta ujian seleksi, kelas MS hanya menyediakan kuota untuk putri sejumlah 30 siswi. Rindy Lita Kholly adalah karibku. Kami bersepakat jika salah satu dari kami tidak diterima di MS, maka kami tidak akan masuk semua.

Sementara saat pengumuman dibacakan, nama Rindy sudah tersebut diurutan ke-19. Hatiku bertambah panik ketika sudah masuk digit ke-50 sekian namaku juga belum terpanggil. Aku hanya bisa pasrah. Tak urung, air mata ini jatuh tanpa terasa. Aku dan Rindy saling menatap kosong. Sampai pada akhirnya, di detik-detik yang tidak terbayangkan, suara keras terdengar jelas dari sang moderator. "Ima Safitri, nomer 60, selamat anda di terima di MS". Demikian kejutan itu terdengar sangat mengejutkan dan menyejukkan. Kami pun tak kuasa menahan haru bahagia. Sebuah haru dengan tangis bahagia kami, yang telah diterima di MS-54.

Di MS, kami menjalani tempaan selama 3 bulan dengan program yang super padat. Berangkat jam 05.00 WIB dan baru pulang kampus sekitar jam 22.00 WIB, adalah rutinitas yang sudah lazim bagi kami siswa MS. Menginjak di bulan ke-3, kami bersiap melakukan out door training.

Setelah pemilihan dan penempatan lokasi diacak, aku kebagian out door training di Ponpes Miftahul Ulum, Dawar Blandong, Mojokerto. Banyak cerita terpatri di sini. Beragam kisah dan pengalaman baru yang kujalani di Ponpes Miftahul Ulum selama satu bulan, semakin menempa kedewasaanku dalam memahami makna hidup. Akhirnya saat yang ditunggu pun tiba, setelah tahapan demi tahapan di program MS terlewati, aku pun resmi lulus dengan menyandang predikat alumni MS-54 BEC.

MIMPI YANG MENJADI NYATA

Lepas dari MS aku mendapat tawaran mengajar di Padang Panjang. Tanpa menunggu dan berpikir lama, setelah orang tuaku merestui, aku pun segera mengiyakan tawaran itu. Namun tawaran itu rupanya tak sebanding lurus dengan harapannku. Aku dijanjikan akan dijemput. Namun sampai kelelahan itu datang, janji itu akhirnya sirna bersama bergantinya malam. Aku malas sekali untuk kembali menelepon pihak sana.

Aku tidak putus asa. Tiap hari aku tiada letih untuk mencari dan terus mencari. Sampai pada akhirnya atas info dari teman aku pergi ke Tangerang untuk mengisi lowongan kebutuhan di sana. Di Tangerang pun, ternyata aku hanya menjalani hari yang sangat singkat. Dengan segala cara aku mencoba bertahan, namun aku tetap tak kuasa. Di tengah kekalutannku, aku bingung. Mau kemanAkah aku sekarang? Pertanyaan itulah yang terus hinggap dalam benakku. Bagiku, sekali keluar rumah, pantang untuk pulang sebelum tercapai apa yang kuinginkan. Itulah pedoman yang begitu kuat melekat sebagai pemompa semangatku.

Diluar rencana, ditengah kebingunganku rekan-rekan alumni yang dari Bekasi menjemputku. Di sini aku sempat beberapa hari berpindah-pindah dari teman yang satu ke teman lainnya. Karena sudah merasa tak nyaman menumpang di rumah orang, aku memutuskan menemui kakak kelasku di Jember dulu yang tinggal di Bintaro.

Kebingunganku ternyata dirasakan juga oleh orang tuaku. Beliau berdua dengan kecemasannya hampir tiap hari menelepon dan menyuruhku untuk segera pulang. Aku begitu bertambah bingung tatkala mendengar pinta kedua orang tuaku. Di tengah kegundahan itu, tiba-tiba aku teringat lagi pihak lembaga di Padang Panjang yang dulu menjanjikan menjemputku. Kemudian aku berusaha untuk kembali menjalin kontak dan menanyakan kembali, bagaiamana peluang itu.

Alhamdulillah, peluang itu ternyata masih ada. Hingga cerita berikutnya, aku positif berangkat ke sana dengan biaya yang semuanya ditanggung oleh lembaga tersebut. Karena tidak pernah naik pesawat aku harus rela bolak-balik bandara untuk mengurus kekurangan yang dibutuhkan. Maklumlah, orang desa sepertiku baru sekali itu naik pesawat.

SYUKUR TIADA TERKIRA

Aku tidak tahu sama sekali gambaran lembaga yang akan aku tempati. Jadi dengan ketidaktahuaanku itu, aku hanya berangan datar tentang tempat kerjaku nanti. Tapi begitu terkejutnya ketika aku sampai di tempat itu. Ratusan murid hilir mudik dengan latar gedung yang sangat modern terpampang di depan mataku. Senyum dan sambutan ramah dengan nuansa sangat kekeluargaan begitu hangat mengiringi kedatangannku. Ya, Alloh. Alhamdulillah, tanpa kusadari, tempat yang memintaku bergabung selama ini ternyata adalah salah satu pesantren besar di Sumatera Barat. Aku hanya bisa terpana kagum dan tak henti mengucap syukur.

Ya, aku akhirnya resmi mengajar di Ponpes Modern Nurul Ikhlas, Padang Panjang, Sumatera Barat. Di sinilah sampai sekarang hari-hariku terisi dengan ragam elegi indah. Berkat bekerja di sini pula, Alhamdulillah aku sudah mampu membeli sesuatu yang dulu hanya menjadi impianku.

Tiada yang tidak mungkin, bila Alloh telah menggariskannya. Teruslah berusaha. Jangan pernah putus asa. Jangan pernah berhenti merenda mimpi. Karena yakinlah, suatu saat apa yang kamu impikan, akan menjadi kenyataan di saat engkau 'bangun'. Terima kasih untuk semua yang pernah aku bikin repot. Terima kasih BEC-ku, rekan-rekan BTC-CTC 120 dan MS-54, we are family forever.

___________

Dikisahkan kembali oleh:

Oviagus Budiono

Inspirasi:
Kisah nyata kiriman Ima Safitri, alumni BEC, BTC-CTC 120, TC 120, MS 54

Kampus BEC

Alamat:

Jl. Anyelir No.8

Desa Pelem, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri 

Propinsi Jawa Timur | 64212

Informasi:

0354. 392987 | +62 812 3053 8823

© 2019 Basic English Course All Rights Reserved. By Kang Oviagus